Kamis, 12 Desember 2013

Romansa Kaum Papa

Pagi di tepi pantai.
Masih dengan sarung dan mata redup,
Ada kopi menemani dengan iringan alunan angin dan air.
Empat orang nelayan yang tak melaut,
Menggunjing mengutuki pemerintah,
Membicarakan bualan yg diutarakan media.
Mendadak mengikuti tren menjadi pakar politik..
Kebijakan birokrat dan romansa realita kaum papa.
Indah nian, lupa bahwa angin sedang tak bersahabat dg jaring..

Jum'at Pagi di Pantai

Pagi bersama ombak,
Malam bersama angin..
Tak seorangpun tau,
Dia menangis kesal..
Nyaris tidak terdengar,
Tangis pasir yang dipaksa hanyut ke lautan.
Tak mengerti bahwa dia begitu mencinta daratan..
Benci bising angin yang riuh bersama ombak..
Seperti juga karang yg lelah diterjang seharian..
Menahun, terhenti ketika pasang..
Sepenuhnya tenggelam dan mati suri..
Tanpa nafas, tidur ditemani ikan..

Jumat, 29 November 2013

Sembunyi

Bersembunyi dibalik dimensi yg terpecah-pecah.
Kata gantung yg tak pernah tuntas,
Takut dilihat apa yg dirasa,
Menutupi biar tak diretas..

Hilang jiwa naratif,
Parsial dan mengebiri kata.
Menghilang makna bersama tanda tanya.
Biarlah hanya dimengerti hati,
Seorang diri..

Kamis, 28 November 2013

Duwit

Pelangi merah biru
Diburu, ditukar dengan waktu.

Dibuang satu per satu
Membeli hidup,
Menafkahi gaya.

Akar selisih,
Jadi tuba pembunuh talian darah

Menemui Akhir

Murung tunduk disapa duka,
Ditinggali sepi..
Mengingat hidup menemui akhirnya.
Kembali kepada hakikatnya hayati, mati..

Jumat, 22 November 2013

Manusia

Bahasa tidak mendekati hati
Mengisi, tapi kosong
Dangkal, tak cukup dalam menyelam
Bersama, tapi sendiri

Teori menemui titik balik
Berbalik mengenai diri
Begitulah cerdas menghardik
Manusia..

Minggu, 17 November 2013

Autum


Bunga gugur, putik berduka..
Angin membantu berkasih,
Hujan meluruhkan harapan berkembang..
Layu luruh tanpa buah..
Susah payah menarik lebah,
Sia-sia mengering di tanah..

Daun maple dan sakura berguguran
Di belahan jauh negeri subtropis
Menyambut hari-hari tanpa matahari
Terlihat indah, menguning dari pohon yang meranggas
Menyembunyikan duka dibalik warna dedaunan indah
Memisahkan diri dari ranting-ranting yg juga mengering
Bertahan, menunggu matahari berbaik hati hadir kembali


Sabtu, 09 November 2013

Cerita kopi

Dicari karena pahit
Dikecap sinis sampai hilang rasa
Memompa detak hidup lebih cepat
Gelisah dibawa
Menjalar menyusuri arteri

Terkadang dipaksa melebur
Jadi hilang jati dirinya
Dicampur merupa wujud baru

_the berugaq_

Sabtu, 02 November 2013

Terlihat

Aku melihatnya..
Mencoba ditutup rapat?
Percuma, matamu berbahasa...
Tangan dan kakimu sudah berkisah.

Seperti terpaksa makan saat puasa
Terpaksa menurutmu?
Imanmu tak menggoyahmu..
Manusiawi kau bilang?

Awan tak terbentuk begitu saja..
Ada uap yang menggumpul dr lautan..
Kau membiarkan yg sedikit menjadi banyak..
Merelakan hatimu untuk menyerah

Ada marwah yg tergusur
Tidak lupa, hanya sengaja untuk tambal butuh..
Yang terjadi malah kau terbelenggu..
Kasian kamu..

Aku tidak akan mengasihani hatiku..
Aku diam walau hatiku tau..

Senin, 28 Oktober 2013

Ada air mata bersama hujan
Hujan tak tahan
Air mata tertahan
Dipaksakan

Kesana kemari menyusuri kanan dan kiri
Mencari arti
Gelisah dahan ditinggalkan dedaunan

Sabtu, 26 Oktober 2013

Akhir bulan

Oktober semakin beruban
Dompet meringis tidak punya penghuni
Diisi kertas2 tanda kehilangan
Jaman materialistis!
Apa2 duit
Waktu berlalu bersama itungan lembar rupiah
Kalau ada yg lupa,
Mungkin gila!
Atau aku saja?

Jumat, 25 Oktober 2013

Sore

Sendu terbawa riak..
Tak cuma riak, melainkan ombak
Bergulung menepi bersama tiupan angin senja..
Dibawa dari hamparan tenang, menuju tepian..
Dipertemukannya dengan pasir kering yang tak setia..
Gampang tergerus dan terbawa..

Hati memaksa jujur
Atau hati tak lagi mengenalinya?
Mungkin pula mati akan rasa
Mengira mengecap gula padahal cuka
Kembali ditelan saja
Harus tau tembaga tak pernah padu dengan permata
Bukan setaranya dikawinkan jadi cincin

Timur gemuruh tertutup mendung
Di barat, matahari memerah di pelataran biru 
Oranye, merah, biru dan ungu,
Langit bermain warna,
Memantul gradasi gelap terang di atas air laut
Kontras si barat dan timur
Umpama kita?

Biar tutup mulut saja si hati!
Bicara sendiri terlalu banyak asumsi
Prasangka tidak terhenti
Senang seorang diri, ditangisi di esok hari..

Sabtu, 12 Januari 2013

Jejak Menapak Tak Tampak

Tidak terasa sudah 3 tahun 4 bulan dan 28 hari sejak saya pertama kali datang ke pulau ini. Kalau dihitung hampir sama dengan waktu yang saya habiskan untuk kuliah DIII.  Banyak  hal yang sudah terjadi. Banyak tawa, tapi juga banyak air mata. Kesal, sakit hati, atau hari-hari biasa tanpa emosi.

Dua tahun pertama saya habiskan menjadi petugas front office. Kadang seperti robot, kadang seperti artis yang menawarkan senyum yang tidak tulus dari hati. Bertemu banyak orang dengan berbagai perangai dan kepribadian, membuat saya gampang tersulut emosi. Saya kurang sabar, dan tidak bisa mentolerir hal-hal yang berbeda dengan pemikiran saya. Bersikap kurang sopan atau berkata keras kepada orang yang lebih tua pun sering saya lakukan. Disini titik terendah dalam perkembangan emosi saya. Saya menjadi sangat tempramen. Mengingatnya membuat saya merasa bersalah kepada orang-orang yang sempat saya sakiti.

Menjadi petugas front office membuat otak saya beku. Pekerjaan monoton dengan kecepatan jari melebihi kecepatan otak mengetik angka-angka di keyboard. Tak jarang juga menjadi sasaran kemarahan visitor yang kurang puas dengan profesionalisme kantor kami dalam memberikan pelayanan. Meskipun sudah modern dan diatur dengan SOP yang jelas, masih banyak orang-orang yang bekerja dengan tempo "tidak modern." Alhasil, sasaran kemarahan ya prajurit terdepan seperti saya ini.

3 tahun, tapi saya merasa I grown up too much. Mungkin karena bergaul dengan orang-orang yang lebih tua dan banyak tekanan pekerjaan, saya jadi merasa bertambah tua terlalu cepat. I hate being called "ibu." Outer appearence saya makin terlihat seperti newlywed atau bahkan new mom. Awalnya stress, tapi lama-lama terbiasa juga.

Pekerjaan, pertemanan, keluarga, dan too much me time. Pada dasarnya saya manusia sosial, saya tidak terlalu suka beraktivitas sendiri. Tapi berada di perantauan seperti ini mengajarkan saya untuk bisa menghabiskan banyak waktu seorang  diri sendiri, Berbagai cara dilakukan untuk menghabiskan waktu sehari-hari. Saya yang dulu dikenal bersemangat dan full energy, seakan sudah seperti baterai yang sekarat. Tak bersemangat dan semakin malas. Kehilangan passion bekerja? Entahlah.

Sejak pertama kali datang hingga saat ini, saya masih susah menerima sikap lokal masyarakat disini.  Etos kerja rendah, kurang menghargai orang lain, tidak tertib dalam banyak hal, kurang sopan santun, dan tidak ingin maju. Saya percaya bahwa kota ini akan semakin maju berkembang, tapi saya pesimis bahwa sikap masyatakatnya juga bisa diajak maju. Selama tiga tahun perkembangan kota ini sangat pesat. Mulai dari ruko-ruko yang berjamuran dimana-mana, perbaikan jalan menuju area-area wisata, bandara internasional, serta gencarnya promosi wisata membuat kota ini semakin ramai dikunjungi.

Tidak sedikit teman yang iri karena saya setiap saat bisa menikmati wisata alam yang luar biasa indah. Awalnya saya juga sangat excited jalan-jalan kesana kemari. Dari satu pantai eksotis ke yang lain. Lambat laun semuanya terasa hambar. Bahkan sekarang sudah hampir tidak pernah menghabiskan waktu jalan-jalan lagi. Salah satu sebabnya bisa jadi karena sudah tidak ada lagi teman yang satu nafas untuk menghabiskan waktu jalan-jalan. Apalah artinya bermain kesana kemari kalau pada akhirnya saya tidak bisa menikmatinya.

Dulu ketika saya masih SMP, saya pernah asal ngomong kalau saya ingin sekali ke Lombok. Waktu itu Lombok belum terkenal seperti sekarang. Entah saya tau dari mana waktu itu. Kata-kata itu seakaan seperti future vision yang tidak sengaja saya lihat dan saya ucapkan. Kalau masih bisa kembali, kata-kata itu ingin saya revisi sedikit. "Saya ingin sekali ke lombok untuk berwisata seminggu saja." Ya! seminggu bukan sampe tiga tahun, Tidak ada suatu hal yang kebetulan atau terjadi tanpa tujuan apapun. Saya diberi kesempatan berkerja disini sampai selama ini, harus ada hal baik yang saya ambil.

Saat magang di Malang, ada seorang pegawai fungsional yang sebelumnya penempatan di Mataram. Dia bercerita bahwa mataram itu kota yang nyaman. Pak Taufik namanya, Beliau sempat kerja di Mataram selama 4 tahun. Waktu itu yang saya pikirkan, "oh 4 tahun? engga saya tidak akan selama itu." tapi ternyata sekarang saya juga sudah melewatkan 3 tahun dan hampir mendekati 4 tahun.

Saya sendiri tidak tahu, kalau tidak di Mataram lagi, apakah saya akan lebih bahagia atau sama saja. Tapi setidaknya kalau di jawa, saya bisa memulai segalanya dari awal lagi. Memulai lagi kehidupan yang lebih baik dengan orang-orang baru. Dan sampai saat ini saya masih berharap bisa setiap saat pulang ke rumah orang tua saya.

Sejak SMP saya sudah sering terpisah dengan keluarga. Orang tua saya dua-duanya bekerja di luar kota. Menginjak SMA mereka kembali ke kampung, tapi saya yang sewaktu itu sekolah di kota, harus kos untuk lebih memudahkan segala aktivitas di sekolah. Ketika kuliah juga jauh ke Jakarta. Selama kuliah,saya termasuk mahasiswa yang jarang pulang kampung. Pulang hanya saat liburan UAS saja. Sekarang pun sama. Tidak pulang kalau tidak cuti. Sementara cuti dalam setahun sangat terbatas. Pulang saat liburan panjang tanpa cuti terasa kurang. Jadinya saya memilih tidak pulang sama sekali. Sometime deeply wondering, kapan saya bisa berdekatan dengan keluarga?

Lelah, bosan, jalan di tempat, tertekan. Berharap untuk bisa lebih baik. Dengan kondisi yang terus menerus seperti ini, apakah akan ada yang berubah? Jika hal yang dilakukan sama saja, apa ya mungkin akan ada sesuatu yang berbeda terjadi? Jika tidak melangkah tidaklah mungkin pindah pijakan. Move On, Ckha!!


_Note for Myself, 00.15 13-01-2013_