Pagi di tepi pantai.
Masih dengan sarung dan mata redup,
Ada kopi menemani dengan iringan alunan angin dan air.
Empat orang nelayan yang tak melaut,
Menggunjing mengutuki pemerintah,
Membicarakan bualan yg diutarakan media.
Mendadak mengikuti tren menjadi pakar politik..
Kebijakan birokrat dan romansa realita kaum papa.
Indah nian, lupa bahwa angin sedang tak bersahabat dg jaring..
Bukan tanpa sengaja aku menjelajah.. Tiada kebetulan atas peristiwa.. Pikiran telah membentuk jalan.. Mengantar pada qadar.. Menapakkan langkah pada dunia.. Tak hanya untuk kenangan, Melainkan sebuah pengabdian..
Kamis, 12 Desember 2013
Romansa Kaum Papa
Jum'at Pagi di Pantai
Pagi bersama ombak,
Malam bersama angin..
Tak seorangpun tau,
Dia menangis kesal..
Nyaris tidak terdengar,
Tangis pasir yang dipaksa hanyut ke lautan.
Tak mengerti bahwa dia begitu mencinta daratan..
Benci bising angin yang riuh bersama ombak..
Seperti juga karang yg lelah diterjang seharian..
Menahun, terhenti ketika pasang..
Sepenuhnya tenggelam dan mati suri..
Tanpa nafas, tidur ditemani ikan..
Langganan:
Komentar (Atom)