Sabtu, 12 Januari 2013

Jejak Menapak Tak Tampak

Tidak terasa sudah 3 tahun 4 bulan dan 28 hari sejak saya pertama kali datang ke pulau ini. Kalau dihitung hampir sama dengan waktu yang saya habiskan untuk kuliah DIII.  Banyak  hal yang sudah terjadi. Banyak tawa, tapi juga banyak air mata. Kesal, sakit hati, atau hari-hari biasa tanpa emosi.

Dua tahun pertama saya habiskan menjadi petugas front office. Kadang seperti robot, kadang seperti artis yang menawarkan senyum yang tidak tulus dari hati. Bertemu banyak orang dengan berbagai perangai dan kepribadian, membuat saya gampang tersulut emosi. Saya kurang sabar, dan tidak bisa mentolerir hal-hal yang berbeda dengan pemikiran saya. Bersikap kurang sopan atau berkata keras kepada orang yang lebih tua pun sering saya lakukan. Disini titik terendah dalam perkembangan emosi saya. Saya menjadi sangat tempramen. Mengingatnya membuat saya merasa bersalah kepada orang-orang yang sempat saya sakiti.

Menjadi petugas front office membuat otak saya beku. Pekerjaan monoton dengan kecepatan jari melebihi kecepatan otak mengetik angka-angka di keyboard. Tak jarang juga menjadi sasaran kemarahan visitor yang kurang puas dengan profesionalisme kantor kami dalam memberikan pelayanan. Meskipun sudah modern dan diatur dengan SOP yang jelas, masih banyak orang-orang yang bekerja dengan tempo "tidak modern." Alhasil, sasaran kemarahan ya prajurit terdepan seperti saya ini.

3 tahun, tapi saya merasa I grown up too much. Mungkin karena bergaul dengan orang-orang yang lebih tua dan banyak tekanan pekerjaan, saya jadi merasa bertambah tua terlalu cepat. I hate being called "ibu." Outer appearence saya makin terlihat seperti newlywed atau bahkan new mom. Awalnya stress, tapi lama-lama terbiasa juga.

Pekerjaan, pertemanan, keluarga, dan too much me time. Pada dasarnya saya manusia sosial, saya tidak terlalu suka beraktivitas sendiri. Tapi berada di perantauan seperti ini mengajarkan saya untuk bisa menghabiskan banyak waktu seorang  diri sendiri, Berbagai cara dilakukan untuk menghabiskan waktu sehari-hari. Saya yang dulu dikenal bersemangat dan full energy, seakan sudah seperti baterai yang sekarat. Tak bersemangat dan semakin malas. Kehilangan passion bekerja? Entahlah.

Sejak pertama kali datang hingga saat ini, saya masih susah menerima sikap lokal masyarakat disini.  Etos kerja rendah, kurang menghargai orang lain, tidak tertib dalam banyak hal, kurang sopan santun, dan tidak ingin maju. Saya percaya bahwa kota ini akan semakin maju berkembang, tapi saya pesimis bahwa sikap masyatakatnya juga bisa diajak maju. Selama tiga tahun perkembangan kota ini sangat pesat. Mulai dari ruko-ruko yang berjamuran dimana-mana, perbaikan jalan menuju area-area wisata, bandara internasional, serta gencarnya promosi wisata membuat kota ini semakin ramai dikunjungi.

Tidak sedikit teman yang iri karena saya setiap saat bisa menikmati wisata alam yang luar biasa indah. Awalnya saya juga sangat excited jalan-jalan kesana kemari. Dari satu pantai eksotis ke yang lain. Lambat laun semuanya terasa hambar. Bahkan sekarang sudah hampir tidak pernah menghabiskan waktu jalan-jalan lagi. Salah satu sebabnya bisa jadi karena sudah tidak ada lagi teman yang satu nafas untuk menghabiskan waktu jalan-jalan. Apalah artinya bermain kesana kemari kalau pada akhirnya saya tidak bisa menikmatinya.

Dulu ketika saya masih SMP, saya pernah asal ngomong kalau saya ingin sekali ke Lombok. Waktu itu Lombok belum terkenal seperti sekarang. Entah saya tau dari mana waktu itu. Kata-kata itu seakaan seperti future vision yang tidak sengaja saya lihat dan saya ucapkan. Kalau masih bisa kembali, kata-kata itu ingin saya revisi sedikit. "Saya ingin sekali ke lombok untuk berwisata seminggu saja." Ya! seminggu bukan sampe tiga tahun, Tidak ada suatu hal yang kebetulan atau terjadi tanpa tujuan apapun. Saya diberi kesempatan berkerja disini sampai selama ini, harus ada hal baik yang saya ambil.

Saat magang di Malang, ada seorang pegawai fungsional yang sebelumnya penempatan di Mataram. Dia bercerita bahwa mataram itu kota yang nyaman. Pak Taufik namanya, Beliau sempat kerja di Mataram selama 4 tahun. Waktu itu yang saya pikirkan, "oh 4 tahun? engga saya tidak akan selama itu." tapi ternyata sekarang saya juga sudah melewatkan 3 tahun dan hampir mendekati 4 tahun.

Saya sendiri tidak tahu, kalau tidak di Mataram lagi, apakah saya akan lebih bahagia atau sama saja. Tapi setidaknya kalau di jawa, saya bisa memulai segalanya dari awal lagi. Memulai lagi kehidupan yang lebih baik dengan orang-orang baru. Dan sampai saat ini saya masih berharap bisa setiap saat pulang ke rumah orang tua saya.

Sejak SMP saya sudah sering terpisah dengan keluarga. Orang tua saya dua-duanya bekerja di luar kota. Menginjak SMA mereka kembali ke kampung, tapi saya yang sewaktu itu sekolah di kota, harus kos untuk lebih memudahkan segala aktivitas di sekolah. Ketika kuliah juga jauh ke Jakarta. Selama kuliah,saya termasuk mahasiswa yang jarang pulang kampung. Pulang hanya saat liburan UAS saja. Sekarang pun sama. Tidak pulang kalau tidak cuti. Sementara cuti dalam setahun sangat terbatas. Pulang saat liburan panjang tanpa cuti terasa kurang. Jadinya saya memilih tidak pulang sama sekali. Sometime deeply wondering, kapan saya bisa berdekatan dengan keluarga?

Lelah, bosan, jalan di tempat, tertekan. Berharap untuk bisa lebih baik. Dengan kondisi yang terus menerus seperti ini, apakah akan ada yang berubah? Jika hal yang dilakukan sama saja, apa ya mungkin akan ada sesuatu yang berbeda terjadi? Jika tidak melangkah tidaklah mungkin pindah pijakan. Move On, Ckha!!


_Note for Myself, 00.15 13-01-2013_